Kairos: [6] Perlahan terkuak

Gadis itu berbau hutan. Seharusnya ini terasa aneh dan tidak biasa baginya tetapi entah mengapa Red menyukai kesan pertama Gadis Daun. Kegugupan Gadis Daun ketika berhadapan dengannya tempo hari itu lucu sekaligus misterius.

Dia tidak mau terlalu percaya diri, namun apakah gadis itu menyukainya? Lucy memberitahunya bahwa gadis itu cukup sering berkunjung ke perpustakaan tanpa meminjam buku. Sore tadi Lucy harus mengantarkan buku-buku ke ruang guru untuk digunakan sebagai bahan ajar. Gadis Daun mendadak menawarkan bantuan ketika untuk kesekian kalinya berkunjung ke perpustakaan.

Red memandangi sekumpulan kawannya yang bermain kartu sambil duduk melingkar di atas karpet sementara dia memisahkan diri dengan berdiri di depan jendela yang tertutup rapat. Toby mengundang teman-temannya dan Red berada di lingkaran pergaulan yang sama sehingga mau tak mau ia harus sekali-kali menanggapi. Mereka tengah mengoloknya tentang peristiwa sore kemarin.

“Perempuan itu pasti cupu. Siapa yang mengangkat tumpukan buku setinggi itu sendirian?”

“Hei, kau bahkan tidak melihat wajahnya, Bung!”

“Toby, kau pikir aku tidak menangkapmu?”

“Menggelikan. Kau harus mentraktir kami besok!”

“Sial. Berhenti bicara!”

Kamar ini sangat ramai.

Ngomong-ngomong, kamarnya kedatangan penghuni baru—yang biasanya tak pernah ada di ruangan ini. Red melihat orang itu bergabung bersama gerombolan meja tengah sejak beberapa hari yang lalu. Sosok lelaki beriris biru yang mendadak bergabung di lingkaran pertemanannya.

Red tidak banyak tahu tentang orang itu tetapi Toby kerap memanggilnya Ian. Dia tidak mengetahui apakah Ian siswa baru di sekolah mereka, lelaki itu hanya tiba-tiba muncul. Sebenarnya sedikit mencurigakan, sayangnya Red enggan berasumsi macam-macam.

“Sazhmann!” Suara Toby membuat Red kembali memindah objek pandangan. “Apa kau hanya akan terus berbaring di sana? Cepat kemari dan jangan bertingkah seperti melankolis yang menyedihkan!”

Red memejamkan matanya, memendam perasaan kesal. “Aku sudah bilang tidak akan bergabung, Toby.”

Ini akhir pekan yang menyebalkan.

Red kembali menaruh pandangan keluar jendela yang menampilkan panorama deretan pepohonan yang tak menerima sinar matahari akibat penguasaan mendung di langit pagi ini. Di nakasnya terletak sejumlah buku yang ia pinjam dari perpustakaan. Awalnya ia berencana membaca habis buku-buku itu di atas ranjangnya, namun Toby menghancurkan rencananya dengan mengundang orang-orang itu.

“Benci keramaian?”

Ketika ia menengok ke balik tubuhnya, sosok Ian berdiri tegap di sana. Senyum yang tersungging di wajah pemuda itu aneh hingga membuat alis Red hampir tertaut.

Sesaat pula Red mengira-ngira apa maksud Ian mendadak bertanya padanya. Lalu ia baru tersadar bahwa memang cuma mereka berdua yang tidak bermain kartu bersama yang lain.

“Buku-buku itu yang benci keramaian,” jawab Red, matanya menunjuk nakas.

“Pergi saja ke luar.”

“Kondisi di luar sana tidak cocok untuk membaca buku.”

“Kalau begitu, mungkin kau akan menyukai suasana loteng di teater. Agak pengap, tapi akan lebih baik ketika kau buka jendelanya.”

Red mengerutkan kening. “Kau serius?”

“Mau kutunjukkan jalannya?”

Berkali-kali ia mencoba menafsirkan ekspresi Ian, Red selalu bertemu pada jawaban yang tak pasti. Pria itu terlihat licik, misterius, sekaligus baik di saat yang sama. Namun, tempat yang ditawarkan Ian adalah salah satu tempat yang amat ia butuhkan sekarang. Jadi, mau tak mau, Red menyetujui usulan itu.

***

“Biasanya dipakai untuk menyimpan alat dan barang. Yang disimpan di sini adalah yang jarang digunakan, jadi kurasa kau bebas kemari kapan saja.”

Red mendengar Ian berujar dari arah tumpukan kardus. Ia membersihkan debu di atas kursi piano yang menempel ke dinding dekat jendela. Butuh usaha lebih untuk membuka jendelanya. Pemandangan yang Red lihat hanyalah rimbunan pohon-pohon. Gedung teater memang terletak agak ke barat sehingga tak langsung berhadapan dengan lapangan.

Namun, Red malah tidak tertarik membaca buku sekarang. Ia justru lebih penasaran dengan orang yang mendadak menyapanya ini.

Maka begitu Red meletakkan buku-bukunya sembarang ke atas kardus, ia mulai bertanya, “Sejak kapan kau mengenal Toby?”

Ian tengah meneliti kertas-kertas yang entah darimana asalnya. “Sejak aku bergabung ke klub renang.”

“Kemunculanmu agak tiba-tiba. Maksudku, di antara kami.”

“Aku tahu. Keberadaanmu juga benar-benar membantu. Maksudku, aku tidak akan menjadi satu-satunya orang yang tidak bergabung dalam permainan kartu itu.”

Red tersenyum tipis.

“Kau baik-baik saja? Aku melihatmu terlibat kecelakaan dengan Rae,” tanya Ian.

“Jadi …, namanya Rae? Kau mengenalnya?”

“Dia anggota klub teater. Kami mengobrol beberapa kali.”

Red terdiam sesaat. Ini informasi baru yang ia dapatkan. Matanya lantas kembali menatap Ian. “Apa kau juga mencium aromanya? Maksudku daun, kayu, hutan, dan hujan.”

“Aku juga mencium aromanya. Daun, kayu, hutan, dan hujan.”

“Ini sangat baru. Aku tidak mengerti kenapa hanya aku yang tampak tertarik.” Kening Red mulai mengerut.

“Mungkin kau terlalu sering menghidu bau buku,” jawab Ian asal. Peri itu lantas mendekati Red dan bersandar pada dinding di sisi jendela. “Teater sedang mempersiapkan pertunjukan dalam dua minggu. Kau tertarik bergabung? Aku tahu kau pernah berpartisipasi di acara kelulusan tahun lalu.”

“Kenapa aku perlu bergabung? Teater selalu menyiapkan acaranya sendiri setiap tahun,” tanya Red.

Ian mengangguk membenarkan. “Anggota klub ini tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Banyak di antaranya yang sering absen di pertemuan rutin, jadi kurasa kami akan butuh bantuan dari sejumlah orang,” terangnya. Peri itu hening selama beberapa saat, lalu menambahkan, “Rae bisa dibilang salah satu yang sering absen.”

Red sempat berpikir hendak bergabung untuk membantu. Ia akan mendapatkan kesempatan bertemu dengan Gadis Daun—atau sekarang Red harus memanggilnya ‘Rae’—dan bertanya. Ia merasa gadis itu telah memperhatikannya berulang kali. Itu masuk akal dengan apa yang dikatakan Lucy. Untuk alasan apapun yang perempuan itu curahkan nanti, Red akan memintanya berhenti.

Namun, ketika Ian menambahkan informasi bahwa gadis itu juga kerap tak hadir dalam pertemuan rutin klub teater membuat Red kembali menimbang-nimbang. Ia bisa saja bertemu dan bisa saja tidak.

“Biar kupikirkan nanti,” ujar Red kemudian.

Ian manggut-manggut. “Kau bergabung di klub apa?”

“Tidak ada.”

“Tidak ada? Kenapa?”

Red nyaris memutar bola matanya, ia sudah acap kali menerima pertanyaan semacam ini. “Klub-klub di sekolah ini cuma mengelompok-lompokkan orang. Itu cuma akan membatasi lingkup pertemananmu. Pada akhirnya, saat orang-orang itu merasa terlalu dikekang maka mereka bakal berperilaku seperti anggota klub teater yang menghilang dari pertemuan rutin.”

Ian menyilangkan tangannya. “Kalau kau bergabung dalam student council, semuanya akan berbeda.”

Student council?”

“Di dalamnya ada orang yang beragam, kau tahu. Kurasa nyaris semua siswa dari klub berbeda ada di sana.”

Student council bukan klub bakat,” Red menyahut.

“Memang bukan, kau sendiri yang mengatakan pendapatmu soal klub-klub bakat di sini. Kau bilang itu hanya akan mengelompok-lompokkan orang. Student council mungkin lebih cocok untukmu.”

Red terpaku mendengarnya. Ia sedikitnya mulai merasa dirinya terlalu tertutup meski berada dalam lingkaran pertemanan Toby. Memang bukan hal yang salah untuk menutup diri dari orang di sekitarnya, tetapi itu bukan tujuannya kala memutuskan tidak bergabung dalam klub manapun.

Haruskah ia mengikuti saran ini?

***

“Jess, kau duluan. Aku harus menemui Mrs. Nicky.”

Jessy mengerutkan kening. “Kau ada masalah?”

“Tidak, aku harus mengumpulkan tugas tambahan karena absen di kelas biologi tiga minggu lalu,” jelas Rae.

“Baiklah. Aku akan mengambilkan set makan siang untukmu.”

“Terima kasih, Jess.”

Rae menunggu Jessy berbelok di ujung lorong. Ia lantas mulai menapakkan kaki menaiki tangga menuju lantai atas. Ruang guru di Trevix ada dua, di lantai dasar dan di lantai atas. Lantai atas lebih banyak dihuni guru-guru yang juga memiliki jabatan di struktur organisasi sekolah, tak terkecuali Mrs. Nicky.

Hari-hari sungguh berlalu dengan cepat. Rasanya baru kemarin Jessy memberitahunya untuk menemui Red sewaktu-waktu. Ia tidak mengerti apa maksud pemuda itu mengajaknya bertemu, tetapi Rae sudah telanjur kehilangan mukanya sedari peristiwa di perpustakaan kala itu.

“Akhir-akhir ini nilai kuismu cukup jatuh, Nona Willow. Kau juga tidak biasanya absen di kelas biologi. Sesuatu terjadi padamu?” tanya Mrs. Nicky sembari menyelipkan sebundel kertas tugas yang diserahkan Rae kertas-kertas yang lain.

Rae tersenyum samar. Ia bertenggang mencari alasan yang tepat dan tidak terdengar janggal bagi Mrs. Nicky. “Belakangan ini memang saya merasa sedikit jenuh. Mungkin itu sebabnya saya kurang berkonsentrasi ketika mengerjakan kuis. Saya tidak bisa memberi tahu alasan saya absen di kelas biologi beberapa hari yang lalu.”

“Murid-murid dari student council sedang mendiskusikan rencana tur akhir tahun. Kalau kepala sekolah menyetujuinya, momen seperti ini bisa sangat membantu untukmu, kan?”

Ah, itu pasti menyenangkan. Rae melebarkan senyumnya. Gadis itu lantas undur diri dan pergi menyusul Jessy di kafetaria.

Namun, ketika Rae hendak melewati ruang kepala sekolah, langkahnya terhenti seketika.

Ibu? Ibu di sini?

Wanita yang terlihat persis seperti ibunya itu tampak mengobrol ringan dengan kepala sekolah sebelum melangkah pergi dari sana.

Rae terpaku cukup lama. Saat ibunya nyaris sampai di tangga, ia mulai berlari. Sebelum ia sempat memanggil sang ibu, tubuh itu mendadak melebur dalam asap hitam.

Melebur. Benar-benar melebur.

Rae mondar-mandir di sekitar tempat ibunya menghilang begitu saja. Ia tak menemukan jejak apa-apa, barang setitik debu sekalipun. Tarikan napas dan degup jantungnya beradu cepat.

Ia menyentuh dinding yang dingin dan memejamkan mata.

Embun dan kabut tipis di luar menyelimuti permukaan kaca jendela di sepanjang lorong. Dua lampu yang menyala redup hampir kehilangan cahayanya hingga berulang kali mati. Bahkan bingkai-bingkai yang menggantung di sepanjang lorong terlihat seolah akan jatuh. Suasana di lantai itu mendadak hening dan mencekam seakan kehilangan penghuni.

Rae meneguk ludah. Tubuhnya mendadak lemas. Ia harus segera turun sebelum perasaan tak mengenakan ini menjerumuskannya pada hal-hal yang tidak diinginkan.

Kaki dan tangannya yang gemetar bersusah payah menuruni tangga. Ia yakin Jessy pasti sudah menunggunya dengan satu set makan siang yang nikmat. Tetapi, saat ini bukan Jessy yang mesti segera ditemuinya di sana.

Beberapa pasang mata mulai menaruh perhatian padanya yang berjalan sambil sesekali bertumpu pada dinding yang ia lewati. Kala langkahnya sampai di kafetaria, ia mengarahkan kakinya ke meja tengah.

***

“Bolanya masuk ke ring timnya sendiri? Itu bodoh, siapa yang bisa lupa itu bukan ring tim lawan.”

“Makanya kau harus lihat bagaimana Will dan pelatih basket susah payah melatih anak kelas satu.”

“Angkatan tahun ini memang lebih kacau dari tim manapun.”

“Kuharap pemandu soraknya tidak ikut-ikutan kacau.”

“Anak-anak yang masuk tahun ini itu menyusahkan, tahu. Mereka bahkan tidak bisa melakukan prep dengan benar. Memalukan.”

“Untungnya anak kelas satu di klub renang tak sebodoh mereka di basket dan pemandu sorak.”

Bahasan mengenai performa anggota baru dalam klub-klub bakat di Trevix terus berlanjut sementara Ian hanya sekali-dua kali menimpali. Ia terlalu sibuk menyantap makan siangnya. Toby yang duduk tepat di sampingnya bahkan belum menghabiskan setengah porsi makanannya akibat terlalu hanyut dalam obrolan.

Sebotol susu yang menjadi minumannya siang ini telah tandas. Ian mendengarkan cerita Toby tentang salah satu junior mereka yang catatan waktunya tidak berkembang pesat sejak pertama kali bergabung. Untungnya, masih banyak waktu sebelum reorganisasi dilakukan tahun depan.

Ian baru saja bersandar pada kepala kursi ketika hidungnya tanpa sengaja mengendus aroma daun. Peri itu spontan menoleh ke sumber bau dan menemukan sosok Rae yang tengah berjalan nyaris limbung di atas kakinya sendiri.

Tanpa menimbang-nimbang, peri itu buru-buru menghampiri Rae. “Hei.”

Ian bisa mendengar deru napas Rae yang tak beraturan. Gadis itu bahkan berdiri dengan kaki gemetar.

“Ada apa?” Kini Toby ikut mendatangi Rae.

“Aku harus pergi. Akan kubawa dia ke unit kesehatan,” ujar Ian, lantas membopong Rae keluar dari kafetaria.

Jelas perbuatannya tak luput dari atensi orang-orang di sana. Toby bahkan belum beranjak dari tempatnya berdiri. Pun Jessy yang menunggu Rae dengan set makan siangnya. Kegaduhan dan gelak tawa di sepanjang meja tengah juga berubah senyap.

Leave a comment