
Ian mencoba mengklasifikasi bau-bauan yang berebut masuk ke indra penciumannya. Peri itu berupaya mengatur keadaan sehingga kenekatannya tidak berakhir fatal. Terakhir kali dia memaksakan diri menggunakan kemampuan mengendus ini, ia kehilangan kesadarannya dan terpaksa membatalkan misinya di Bumi.
Ada yang janggal. Dia menemukan satu zat berbau aneh yang sulit diidentifikasikan karena tertutup oleh jenis bau lain. Keningnya mengerut, dia lantas memejamkan mata, dan menajamkan penciumannya. Bahan yang menghasilkan bau ini jumlahnya terlalu sedikit di ruangan ini—sudah dibersihkan meskipun tetap meninggalkan bekas. Manusia mungkin tidak lagi bisa menemukan bau ini dengan indra penciuman mereka tetapi seorang peri seperti Ian bisa melakukan itu.
Klorin? Apa—tidak, ini bukan klorin. Ian sedikitnya mulai kebingungan sekaligus merasa khawatir. Dia memiliki firasat tak mengenakan yang benar-benar membuat dadanya seolah ditekan kuat-kuat. Jemari peri itu seketika bergetar dan basah. Keringat mulai bercucuran di sekujur tubuhnya.
Saat peri itu nyaris menyentuh titik limit dan sudah bersiap akan kehilangan kesadarannya lagi, Ian mendapat jawabannya.
Ini Aseton. Tunggu—apa? Bukan, ini bukan hanya Aseton. Apa yang terjadi?
Tidak hanya satu jenis bahan peledak, Ian bisa menemukan bahan kimia lain. Peri itu sedikit demi sedikit merasakan degup jantungnya terpacu. Hingga pada tarikan kuat napasnya yang terakhir, Ian menemukan samar aroma abu. Ian sadar abu itu bukan sekadar abu pembakaran biasa, ia sangat mengenali asal-usulnya.
Abu itu adalah abu milik peri, peri dengan elemen yang berbeda dengannya.
Ian paham mengapa ia acap ditempatkan di sini tiap kali ditugaskan kepada manusia. Desa-desa di sekitar Trevix termasuk wilayah yang lembap dan tak jarang diguyur hujan. Oleh karena itulah peri berelemen air seperti dirinya selalu bertugas di wilayah dengan karakteristik yang sama. Namun, menjumpai abu milik peri berelemen api membuatnya bertanya-tanya. Apalagi dengan keberadaan Aseton yang jelas mencurigakan.
Tumpuan di kakinya melemah. Matanya mulai berkunang-kunang. Napasnya berangsur sesak.
Ian yakin dirinya akan pingsan. Tepat sebelum itu terjadi, ia merasakan gadis yang sedang bersamanya di ruangan ini menubruk punggung dan berpegangan pada kedua lengannya yang tergantung bebas. Peri itu sadar bahwa Rae tidak segera menjauhkan tangan mereka dan malah memeriksa telapak tangannya yang masih basah oleh keringat dingin. Gadis itu menangkap kondisi fisiknya yang mendadak berubah.
Demi mencegah tindakan lebih jauh yang bakal dilakukan Rae, Ian memaksa membalikan badan. Sorot mata cokelat madu gadis itu menyuarakan apa yang ada di kepalanya. Ian bahkan belum sempat mengolah fakta mentah yang baru ia ketahui sekian detik lalu karena sudah nyaris kehabisan tenaga.
“Bisa kau tunggu aku di luar?” pinta Ian kemudian.
“Tapi, kau—tanganmu ….”
“Tanyakan apapun itu padaku nanti, Rae. Aku harus melakukan ini sendiri.”
Rae terpaksa mengabulkan apa yang peri itu minta. Ian tidak terdengar sedang bercanda, ia benar-benar serius menyuruhnya pergi. Rae mulai berspekulasi karena Ian terlihat pucat.
Ian berupaya tetap tersadar setelah memastikan Rae benar-benar di luar. Ia masih harus mengemudikan mobil untuk membawa Rae pulang ke Trevix.
Peri itu menyentuh permukaan sofa, meja, dan lantai di ruang tamu. Dia berusaha menemukan sisa-sisa bahan-bahan kimia dan abu barang setitik saja. Dia ingin memastikan bahwa benda-benda itu benar ada di sini.
Bahan peledak yang bisa ia endus aromanya itu menghuni celah di bawah sofa. Keberadaannya di sana jelaslah disengaja. Mungkin seseorang yang menyembunyikannya terburu-buru pergi entah ke mana.
“Ah!” Ian memekik pelan. Telapak tangannya menyentuh sesuatu yang sangat-sangat panas di bawah sofa. Ia lantas merundukkan kepala untuk memeriksa.
Sepasang matanya memelotot terkejut.
Di sana, bagian bawah sofa yang terdalam dan beradu dengan dinding, Ian melihat lidah-lidah api biru sedang membakar sisa-sisa kertas dan sebuah pigura kayu.

***
Peledak dan api.
Ian terus mengulang keduanya dalam pikiran. Dia nyaris tidak bisa mendapatkan kesimpulan paling tepat untuk temuannya semalam.
Temuan bahan peledak itu sebetulnya bukan konsentrasi utamanya saat ini. Masalah sebenarnya ada di api biru. Api itu adalah milik peri sebangsanya yang berelemen api. Mengapa bisa ada di kawasan yang utamanya dihuni peri berelemen air?
Ian terpaksa berbohong mengenai kecurigaannya malam tadi. Rae tidak boleh tahu hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan bangsanya. Beruntungnya, Rae tampak cukup puas ketika Ian menjelaskan bahwa ruang tamu rumah gadis itu sangat berantakan dan tercium bau makanan busuk dari dapur.
Peri itu lantas memindahkan objek pandangnya pada halaman Trevix. Dari atas sini dia bisa melihat taman dan lapangan olahraga yang ramai dihuni murid-murid di jam khusus ekstrakurikuler. Klub teater meliburkan anggota yang tidak mengambil peran dalam drama spesial natal Desember nanti.
Red Sazhmann, pria yang disukai Rae, ada di sana. Dia tampak berusaha menolak ajakan kawannya untuk bermain sepak bola. Pemuda itu sepertinya menolak, tetapi orang-orang di sana tetap memaksa. Pelatih klub itu sepertinya membiarkan mereka berlatih sendiri sebab belum ada pertandingan yang bisa diikuti.
Membantu Rae mendapatkan sang pujaan hati mungkin adalah sesuatu yang dapat Ian lakukan. Ia segera melompat dari dahan pohon oak yang semenjak tadi ia duduki. Pohon raksasa di sudut terjauh dari halaman terbuka Trevix ini menolongnya menyembunyikan diri. Meski mereka pasti punya loteng di gedung utama, Ian tidak mau tinggal di loteng bahkan hanya untuk beberapa saat saja. Loteng selalu terlihat buruk baginya.

Sudah saatnya misi ‘Mengejar Cinta’ dimulai. Pertama-tama, dia harus berteman dekat dengan manusia itu.
Namun, belum sampai Ian menghampiri sisi lapangan dimana Red berada, peri itu menangkap presensi Rae yang berjalan bersama tumpukan buku di pelukannya. Gadis itu berupaya menjauh dari lapangan supaya tidak tersasar bola. Seketika rencana Ian pun berubah. Dia tersenyum senang mengetahui ide kecil tumbuh di kepalanya. Yah …, sedikit kacau, tetapi tidak buruk.
Sementara itu, si target yang belum juga sukses melepaskan diri dari teman-temannya itu berdecak sebal.
“Ayolah, Red. Kau tidak bisa terus bertemu dengan penjaga perpustkaan seperti itu. Pertandingannya akan lebih menyenangkan kalau kau ikut bermain,” seseorang berkata sedikit sarkastis padanya.
“Bibi itu bisa betulan menyukaimu kalau kau rutin berkunjung, Red.”
“Oh, kalian sungguhan tidak memahami penolakanku?” Red menyahut setengah mendesah. Dia sedang enggan menggerakan tubuhnya keras-keras dan ingin menikmati kesunyiannya di tempat penuh buku yang damai. Siapa tahu gadis beraroma dedaunan itu ada di sana, ia mau meluruskan kesalahpahamannya tentang penyebab kaburnya gadis itu tempo hari.
Sadar bahwa sekelompok orang ini tidak akan meloloskannya, Red akhirnya memutuskan menyentak cekalan di lengan kanan dan kirinya. Dia spontan berlari.
Mereka tidak menyerah. Red menyadari mereka berlari lebih kencang sehingga dia terpaksa menambah kecepatan juga. Namun, kakinya terjerat sesuatu di atas rerumputan kering yang dipijakinya. Arah berlarinya otomatis membelok dan dia hampir jatuh tersungkur seandainya tidak dapat mengontrol keseimbangan tubuh.
Tantangan ternyata tak selesai sampai di situ. Begitu lolos dari ancaman jatuh, seorang siswi yang mengangkat gunungan buku di depan tubuhnya berada tepat di jalur lari Red. Jaraknya terlalu dekat dan waktunya terlalu cepat hingga tabrakan pun tak terhindarkan.
Red dan gadis itu jatuh bertindihan bersama buku-buku yang tercecer di sekitar mereka. Ketika Red masih memejamkan mata, semilir bau lembab dedaunan merangsek masuk ke penciumannya.
Pria itu sontak bangkit terlebih dulu. Ada puluhan siswa yang menyaksikan peristiwa beberapa detik lalu dan betapa memalukannya itu.
Oh, Gadis Daun!
Rae terbaring malang di sana, telentang dengan kepala jelas terbentur cukup keras. Ia tidak berhenti meringis karena tubuh bagian belakangnya seolah remuk. Perempuan itu sudah menangis meskipun tak terisak sama sekali.
“Rae!”
Gadis lain mendadak datang dan panik melihat kondisi si Gadis Daun.
Red buru-buru bertanya sebelum dia semakin sulit untuk bersuara. “Kau temannya?”
“Red?” Perempuan itu malah membelalak kaget.
“Apa kita saling mengenal? Tolong rapikan buku-buku ini dan bawa ke perpustakaan. Aku akan membawa temanmu ke unit kesehatan.”
Jessy masih syok ketika Red mulai menyelipkan jemarinya di sela paha dan betis serta di punggung Rae, lantas membopongnya pergi.
Si peri tak tinggal diam, dia berupaya keluar dari kerumunan. Ian harus sampai di unit kesehatan lebih dulu. Ini kesempatan emas baginya menciptakan percik-percik ketertarikan pada Red sekali lagi. Aroma dedaunan yang dibuatnya di perpustakaan lalu berhasil memikat, langkah kedua yang dia prakarsai harus bisa memperkuat dampaknya.
Tanpa sepenglihatan penjaga unit, Ian menyambangi salah satu ranjang pasien yang ia tahu betul akan digunakan Rae. Dia menggosokkan ujung telunjuk dan jempolnya hingga butir-butir berkilau jatuh di atas kain seprai, kilaunya bertambah terang sesaat, lalu menghilang bak air yang terserap.
***
Red bisa saja sedikit khawatir. Bayangkan buku-buku sebanyak itu menimpamu, kau juga terjatuh dan membentur permukaan keras secepat itu, dan seorang lelaki hampir menghantam pada tubuhmu sehingga menambah rasa sakitnya. Dengan badan seringan dan sekecil ini, Red yakin semua yang sudah ia sebutkan tadi bukan beban yang sepadan jika disasarkan pada Gadis Daun.
“Dia pingsan karena mengalami benturan yang keras di kepalanya. Aku tidak tahu apakah itu berbahaya bagi sarafnya, kita bisa mengetahuinya saat dia sadar nanti.” Dokter Lavine menyunggingkan senyum tipis sembari kembali menatap tubuh sosok gadis muda yang terbaring tanpa daya di sana. “Tidak akan terlalu buruk mengingat dia tidak terjun dari lantai dua ataupun lantai tiga gedung sekolah ini.”
Tidak akan terlalu buruk. Rasanya itu belum cukup meredakan rasa bersalahnya. Dia menyebabkan Gadis Daun hilang kesadaran seperti ini.
Dokter Lavine tampak menunggunya meninggalkan ruangan.
Red merasa tidak bisa meninggalkan Gadis Daun sendirian. Matanya terkunci pada wajah dengan goresan-goresan luka kecil di pipi itu. Dia memiliki banyak topik untuk dibicarakan, termasuk soal Gadis Daun yang terlihat ketakutan saat bertemu dirinya di perpustakaan saat itu. Red bak kecanduan aroma tubuhnya juga. Semerbak bau dedaunan tak pernah pudar dari Gadis Daun.
“Permisi ….”
Red sontak menoleh ke sumber suara. Dia, teman si Gadis Daun, datang. Dokter Lavine sudah meninggalkan unit kesehatan tanpa Red sadari.
“Kau bisa pergi sekarang. Aku akan menjaganya, Red.”
“Bagaimana kau mengenalku?” Red berbalik.
Teman Gadis Daun itu malah terkekeh.
“Maafkan aku. Perkenalkan, aku Jessy. Aku tidak tahu kau sedang merendah atau apa, tapi kau itu salah satu orang populer di Trevix, Red. Bagaimana bisa aku tidak mengenalmu …,” Jessy menarik napas sembari memandangi kondisi sahabatnya yang terbaring di ranjang pasien.
Red menatap Jessy dan Gadis Daun bergantian. Dia harus bicara pada Gadis Daun, bagaimanapun caranya. Red akhirnya memilih menitip pesan, “Katakan padanya untuk menemuiku besok setelah jam sekolah usai di perpustakaan. Kalau dia masih belum membaik, minta dia datang di hari berikutnya. Aku tunggu. Terima kasih, Jessy.”