Kairos: [3] Red dan Si Penguntit

Waktu makan siang adalah saat yang tepat untuk kembali memperhatikan arus puluhan manusia yang sekarang sedang menuju ke kafetaria untuk mengisi perut. Puluhan tahun telah berlalu semenjak terakhir kali dia menyaksikan dunia manusia. Setelah lama menjalani hukuman dengan terpaksa terkurung dalam penjara sulur berduri sekian lamanya.

Ian menyapa Toby yang tengah bercanda bersama sekelompok para pemandu sorak di meja tengah. Presensinya menyita beberapa pasang mata, belakangan ini ia sering mendengar orang-orang membicarakannya.

Yah, sudah banyak yang berubah sejak terakhir kali aku di sini.

Ketika tubuhnya tiba di sana, Ian menangkap keberadaan pria itu. Pria yang kini berusaha melepaskan diri dari cengkraman para pemain rugby itu orang yang ditaksir Rae.

Ian menepuk pundak Toby, meminta sedikit atensi. “Kau tahu dia?” Dagunya menunjuk seorang pemuda yang kabur meninggalkan kafetaria.

“Dia Sazhmann—oh, maksudku Red Sazhmann. Dia selalu pergi tiap kali kami mencoba menahannya di sini.”

“Apa dia salah satu dari mereka?” Ian menyorotkan mata pada sekelompok pemain rugby di ujung meja.

Toby menggeleng. “Dia tidak pernah mau bergabung dengan salah satu dari klub kami di sini. Entah apa yang ada di kepalanya tapi menurutku dia lumayan jago bermain rugby. Kenapa kau tiba-tiba bertanya?”

Ian secepat kilat mengganti topik obrolan dengan bergabung dalam pembicaraan gadis-gadis di dekatnya dan mengabaikan pertanyaan Toby. Setelah mengambil burger ukuran besar sebagai makan siang, dia melempar guyonan sehingga Toby dan sejumlah orang di sekitarnya terbahak-bahak. Aksinya mulai memperoleh lebih banyak perhatian kemudian.

Sementara itu, di salah satu sudut kafetaria yang lain, dua pasang mata tengah mencermati keberadaan Ian di meja tengah. Kedua gadis itu sama-sama terperangah. Tidak mengherankan dengan tampang seperti itu mudah saja bagi Ian mendekati siapapun di sekolah ini.

“Wah …, dia bergaul dengan baik. Rae, kau lihat? Dia bahkan cukup pintar untuk masuk ke perkumpulan mereka,” balas Jessy.

Kesalahan terbesar yang diperbuat lelaki itu adalah bergabung di dua klub di Trevix sekaligus. Apalagi salah satunya adalah klub renang yang hampir setara dengan klub basket dan rugby. Hal tersebut jelas bakal membuat popularitasnya semakin membengkak.

Rae tentu kian tak percaya bahwa orang itu akan membantu hidupnya dengan cara semacam ini. Ia hanya terus berkata tanpa memberikannya bukti nyata. Ian sudah menipunya. Rae tidak mengerti mengapa pemuda itu melakukan ini, menyebabkan dia menjadi banyak berharap bahkan sampai empat hari sejak kemunculan pertama kali Ian di Trevix.

Omong kosong Ian sungguh melonjakkan gelora emosinya. Ia tidak tahu kenapa ia merasa sangat marah, tetapi Rae jelas harus memberi peringatan agar pemuda itu tidak macam-macam padanya.

“Aku harus menemui Ian,” ucap Rae pelan.

Jessy mengedip, otomatis mengalihkan tatap. “Apa?”

***

Rae mencegat Ian di lokernya. Peri itu baru saja selesai bicara dengan Toby, ketua klub renang, yang memintanya datang di agenda latihan sore ini. Ekspresi wajahnya tampak keheranan, tidak menyangka bahwa perempuan ini akan menghampirinya lebih dulu sedangkan dia sudah berniat datang malam nanti.

“Bisa kita bicara?” Rae memaksa raut datar di wajahnya.

Ian mengangguk. “Aku juga mau memberitahumu sesuatu.”

Tanpa membuang waktunya lagi, Rae berjalan lebih dulu dan memilih berhenti di sudut pekarangan gedung sekolah agar tersembunyi.

“Kau sedang bermain-main denganku atau apa? Mencoba menyebar omong kosong dan mengacau? Aku akan membantumu, oh, benar-benar bicaramu saja!” serang Rae.

“Aku memang akan membantumu.”

Rae mendengus. “Lalu kenapa yang kau lakukan hanya untuk menguntungkan dirimu sendiri? Mendongkrak popularitas dan membuatku berharap kau memang bisa menolongku. Kau menjengkelkan! Kau cuma pria aneh yang entah memakai ilmu hitam atau apa untuk memengaruhiku.”

Mendengar amarah Rae, Ian justru menanggapinya dengan senyuman. “Kau tidak bisa terburu-buru begitu.”

“Ibuku menghilang dan aku bahkan belum melakukan apapun sampai sekarang karena kau!”

“Aku tahu.”

Rae mendelik. “Kau tahu?” Keningnya mengerut tak percaya. Sebenarnya apa yang orang ini tunggu?

“Kemarikan tanganmu,” perintah Ian. Ia mengambil tangan kanan Rae dan membuka telapak tangannya ke atas. “Biarkan seperti ini, oke? Jangan bergerak. Aku harus memastikan identitasku sekali lagi padamu”

Rae menatap Ian bingung. Ian mengambil satu langkah mundur. Senyumannya belum juga memudar, tetap melengkung tulus seolah kemarahan Rae sekian menit lalu tak mengubah apapun.

Apa yang terjadi selanjutnya sukses mengejutkan Rae, ia hampir terjengkak dan jatuh ke semak-semak. Matanya membulat sempurna, terkejut dan ketakutan. Dia bahkan nyaris menjerit jika Ian tidak mencegahnya.

Memangnya siapa yang tidak kaget kalau melihat tubuh manusia Ian tiba-tiba mengecil menjadi sangat mini? Ian versi kecil itu bahkan sekarang berdiri di atas telapak tangan Rae yang terbuka. Penampakannya persis seperti makhluk kecil yang membuat Rae terbangun di hari Ian menyelinap ke kamar dalam mimpinya. Yah, setidaknya sekarang Rae tahu itu bukan mimpi.

Jadi …, makhluk itu ….

“Masih ada banyak hal yang belum kutunjukkan padamu, Rae. Aku juga harus memastikan beradaptasi dengan baik di sini. Kau harus membantuku juga. Buat aku seperti teman dekatmu sehingga mereka tidak curiga mengapa kita mendadak akrab. Dengan begitu, aku bisa membantumu secara bebas karena mereka tidak akan mencurigai kita. Kau juga harus mengerti kalau kita tidak bisa pergi begitu saja dari sini untuk mencari ibumu,” terang Ian.

“Oh, ya. Aku tahu kau sedang menyukai seseorang. Mau kubantu mendapatkan dia?”

Rae belum bergerak sama sekali selepas Ian berubah. Gadis itu membeku, menatap Ian tercengang.

Uhm …, oke, sepertinya kau belum siap untuk itu. Sebenarnya aku ingin datang malam ini, tapi sikapmu tadi membuatku malas. Aku akan datang besok malam, jadi bersiaplah.” Ian langsung mengubah wujudnya menjadi ukuran manusia lagi lalu melangkah pergi.

Rae yang belum juga bisa menyesuaikan diri dengan situasi tersentak. “T-tunggu, hei! Apa maksudnya besok malam?!”

Sulit menerima kenyataan bahwa Ian memang dapat mengubah ukuran tubuhnya menjadi sangat kecil atau ternyata lelaki itu sungguhan peri. Sejujurnya dia juga tidak mengerti dengan apa yang Ian sebut dengan peri.

Oke, aku harus menemuinya lagi besok. Aku tidak bisa membiarkan dia masuk kamar sebelum semuanya jelas.

Namun, keadaan di keesokan harinya membuat Rae mengurungkan niatnya mendatangi Ian. Sepertinya ia lebih baik memisahkan diri dari orang-orang karena ia menyadari gadis-gadis ada yang melirik padanya dengan sengaja. Entah apa penyebabnya, tetapi menemui Ian yang kini berada di lingkaran pertemanan orang-orang populer bisa menarik lebih banyak pasang mata.

Rae berusaha tidak membalas tatapan mereka dan terus berjalan.

Saat ia hampir mencapai loker, Jessy berseru memanggilnya. Sahabatnya itu bahkan menghampiri dan menggamit tangannya, memaksa Rae sampai di loker lebih cepat.

“Apa-apaan?” Rae membuka loker. Jemarinya mencari-cari beberapa buku untuk ia bawa ke kelas seharian ini.

“Kau bertemu Ian, kan? Apa yang kau lakukan?” tanya Jessy tanpa berbasa-basi. “Mereka semua membicarakanmu karena melihat kalian pergi berdua kemarin. Ada yang bilang kau menyatakan perasaan. Apa yang terjadi?”

Dia dan Ian? Rae mendecih. Gadis itu jelas tak percaya orang-orang di sekitarnya ini menganggap serius pertemuan kemarin. Apa pesona Ian sekuat itu sampai-sampai Rae mesti terperangkap gosip begini? Efek bocah lelaki yang baru memunculkan presensinya di Trevix itu sungguh mengejutkan baginya.

Dua orang siswi di sampingnya seolah sedang menguping. Rae hampir mengerang, Ian memang semakin menambah masalah hidupnya.

“Dengar, aku tidak punya perasaan sedikitpun—”

“Lalu kau bicara apa dengannya kemarin?” potong Jessy. “Kau tidak sedang menyembunyikan fakta bahwa kalian bersaudara atau semacamnya, kan?”

Rae panik. “Apa? Tidak! Pertemuan kemarin bukan apa-apa. Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu, Jess?”

“Tentu saja aku berpikir seperti itu. Banyak yang bilang kalian terlihat akrab. Sekarang katakan kau dan Ian itu sebenarnya apa? Mitos yang kau ceritakan kemarin itu nyata?”

“Tidak, lupakan saja soal mimpiku itu. Ian itu salah satu teman di sekolah lamaku. Dia mengubah nama panggilannya dan wajahnya juga sudah banyak berubah. Oleh karena itu, wajar kalau aku tidak langsung mengenalinya.”

Jessy hendak melayangkan kalimat lagi untuk mempersulit Rae sehingga dia memutuskan menyela, “Aku harus masuk ke kelas. Jangan lupa bersihkan namaku kalau ada yang membicarakanku, oke?” Rae berjalan setengah berlari meninggalkan loker.

***

Ekstrakurikuler itu opsional. Semestinya itu yang menjadi pendapat orang-orang di Trevix. Tetapi kenyataannya tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi klub-klub yang diikuti oleh seseorang belakangan menjadi tolok ukur murid-murid sekolah dalam memilih teman.

Itu jelas tidak bisa diterima secara logis olehnya. Red, pemuda yang kini tengah berdiri di antara rak-rak buku perpustakaan, juga tidak mempunyai ketertarikan khusus terhadap sesuatu. Pemuda itu lebih banyak mencintai suasana perpustakaan yang sepi, minim kebisingan. Begitulah dia setiap jam sekolah berakhir. Ia akan menyapa Lucy, penjaga perpustakaan Trevix, dan memilih meja di dekat rak sebelah timur.

Red ‘Red’ Sazhman

Meskipun dia banyak menghabiskan waktu di perpustakaan, sebenarnya Red bukanlah orang yang membatasi pergaulan. Ia tetap meladeni teman-temannya yang memintanya mampir ke lapangan rugby, sepak bola, atau basket untuk bermain sebentar.

Susunan buku-buku astronomi yang sedang ia teliti tampak berdebu. Rak tempat buku-buku tersebut bersarang memang jarang tersentuh. Dia bahkan bisa mencium bau lembaran kertas yang telah menguning. Red mengakui bahwa bau itu adalah jenis bau favoritnya.

Namun, penciumannya terusik bebauan lain yang mendadak merangsek masuk ke dalam indra penciumannya. Sekarang masih dominan aroma buku dan kertas, tetapi bercampur setitik bau dedaunan dan agak lembab. Menyejukkan.

Red mengedarkan pandangan. Sayangnya, sejauh yang ia lihat hanya ada dirinya di sini. Red cukup penasaran siapa si pemilik aroma itu. Pasalnya, dari ratusan manusia di Trevix, ini mungkin pertama kalinya dia menemukan seseorang yang memakai aroma dedaunan sebagai wewangian. Mayoritas dari mereka menggunakan parfum bunga yang feminin atau parfum woody yang maskulin.

Pria itu menghela napas, mungkin memang sebaiknya dia tidak terlalu memikirkan ini. Setelah mengambil satu buku untuk dipinjam, Red bergegas pergi untuk menyerahkan bukunya pada Lucy.

Di sisi lain, Ian yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Red dari jendela tersenyum puas. Beberapa saat yang lalu ia memutuskan mengikuti Rae yang diam-diam pergi ke perpustakaan dan peri seperti Ian jelas tahu itu adalah waktu yang tepat untuk berbuat sesuatu. “Aku memang tidak pernah gagal memasangkan manusia.”

Menjodohkan mereka secara tiba-tiba jelas terlalu mengejutkan. Aku harus membuat mereka bertemu dengan cara yang lebih lembut. Ian sengaja memberi Rae cairan wewangian daun yang ia buat dengan ujung jari telunjuknya, berpikir itu cukup untuk mengganggu Red.

Sementara itu, Rae berusaha mengatur ritme detak jantungnya. Dia nekat memangkas jarak ketika mengintip seorang Red sekali lagi. Lokasinya sangat sepi dan dia tidak bisa buru-buru menyatu dengan orang jika nanti Red menyadari presensinya. Rae menepukkan buku di tangannya yang masih terbuka, ia tadi menyembunyikan wajahnya dengan buku itu.

“Rae, ini tidak berguna. Kau harus bisa menahan diri ke sini lagi. Dia tidak tahu kau dan kau bahkan tidak berani memulai pertemanan. Ayo, angkat kaki dari sini,” bisik Rae pada dirinya sendiri.

Sebelum langkahnya menapak pada permukaan lantai, suatu suara menyentaknya hingga ke titik jantung, “Kau berbicara pada dirimu sendiri?”

Rae belum sempat menoleh tetapi tubuh jangkung itu muncul dari balik tubuhnya.

Red. Red Sazhmann sedang berdiri di hadapan Rae.

Bencana. Rae bahkan tidak bisa menggerakan bibirnya. Ia panik, mulai tergagap, dan kakinya gemetaran.

Melihat gadis yang ditatapnya terus bungkam dengan mata melotot, Red menanyakan kewarasannya, “Kau—baik-baik saja?”

Sekarang Rae kesulitan mengangguk. Sial sekali. “I-iya iya. Aku baik-baik saja. Permisi. Aku mau pergi.” Ia lekas menyelipkan buku dalam genggamannya di rak buku terdekat.

Sayangnya, gadis itu belum sempat melarikan diri ketika Red lebih dulu mencekal gadis itu dengan pertanyaan lain. “Itu buku arkeologi, kan? Kenapa kau letakkan di sini? Ini rak buku astronomi.”

Mata Rae membulat. Gawat. Kalau begini, Red bisa tahu aku sedang mengintip. Gadis itu mulai panik sendiri sedangkan pria di hadapannya masih menunggu jawaban. Rasanya tidak ada alasan yang tepat mengapa Rae bisa ada di sini, membawa buku berlainan kategori dengan yang banyak tersusun di rak ini.

“A-aku punya kebiasaan berjalan sambil membaca buku.”

Red tampak mengernyit. “Apa maksudmu?” Dia memandangi perempuan di depannya penuh selidik. Rae kehabisan akal. Dia akhirnya berlari melewati Red, membawa lari rasa malunya yang entah bagaimana sudah meluap bahkan sebelum pemuda itu mengetahui apa yang sebetulnya terjadi.

Leave a comment