Kita semua tahu bahwa selama hampir satu setengah tahun ini sudah terasa sulit bagi banyak orang. Ancaman tak dapat hidup berkecukupan, terpisah berpuluh-puluh kilometer dari keluarga, tekanan dari segala sisi, dan paksaan untuk tetap terbiasa. Kadang kita tak punya pilihan lain, lalu nekat melawan meski tahu di luar sana sudah menjadi lingkungan yang kejam.
Bingung, frustrasi, putus asa, dan terpuruk, ada banyak manusia yang sekarang menjalani hari-hari yang sulit. Sungai mengaliri pipi mereka meski tahu sungai itu tak berarti apapun untuk saat ini. Doa-doa terus mereka panjatkan supaya hari-hari ini segera berakhir, berharap ada keajaiban ketika bergepok-gepok uang jatuh dari langit. Namun, itu bahkan terdengar mustahil di telinga mereka sendiri.
Sampai saat mereka tak punya pilihan lain, mereka berlari meminta bantuan pada si kaya yang tebal hati. Mereka meminjam segepok uang, tetapi harus dikembalikan berlipat. Mereka tahu itu sangat tidak adil dan terlalu besar jumlahnya, namun tak ada jalan lain. Mereka terus meminjam uang pada si kaya, lagi dan lagi. Tentu saja mereka tahu bahwa suatu hari nanti, si kaya akan mendatangi mereka untuk meminta uangnya kembali, entah mereka siap atau tidak.
Uang memang sudah di tangan, sayangnya mereka harus tetap mencari nafkah. Segalanya masih sulit, bahkan hanya untuk selembar uang warna ungu.
Tetes-tetes keringat dari tubuh tak sebanding dengan hasil yang didapat. Mereka tetap pulang untuk bertemu keluarga kecil mereka. Si ayah kadang merasa bersalah pada anak-anaknya. Lalu si ibu berusaha menenangkan buah hatinya. Lagi-lagi, mereka semua harus beristirahat di malam yang kelam dan sunyi.
Di lain sisi, ada juga orang-orang yang terus terancam ditelantarkan oleh pemimpinnya. Mereka bekerja walau tahu si pemimpin bisa membuang mereka kapan saja. Finansial perusahaannya merosot. Meski diusahakan, tidak ada yang tahu seberapa besar perubahan yang terjadi. Jika berhasil, mungkin mereka masih bisa bertahan lebih lama. Namun, jika itu gagal, tentu mereka yang harus pergi.
Pada kehidupan yang lain, remaja-remaja yang masih belajar harus menerima kenyataan pedih. Di permulaan, mungkin mereka senang karena bisa berlama-lama di atas kasurnya yang empuk. Namun, lama kelamaan, segalanya menjadi sulit. Kebersamaan dengan teman-teman seolah menjadi hal yang cukup sulit diciptakan. Seragam-seragam yang nyaris setiap hari mereka kenakan kini tergantung senyap di dalam lemari. Dulu mereka duduk di bangku sekolah menatap papan tulis di depan, sekarang mereka hanya duduk di meja belajarnya sendiri dan menatap ke arah layar elektronik.
Ada banyak sekali kisah menyedihkan yang lahir pada masa ini. Sedikit yang bisa menarik perhatian sementara yang lain tenggelam begitu saja. Sejumlah orang merasa iba, tetapi tak mampu berbuat banyak karena mereka juga mengalami situasi sulit.
Kapan negeri ini kembali seperti semula? Kapan mereka bisa menghirup udara kebebasan?
Pada akhirnya, mereka hanya bisa bergantung pada yang berkuasa dan Tuhan Yang Maha Esa.
Teman, kata-kata ini terangkai begitu saja. Gadis ini mendadak memikirkan kehidupan orang-orang di bawah terik sinar matahari siang ini dan sunyi yang berkuasa di malam hari. Dia masih punya banyak hal untuk dilakukan, tetapi ia mendengar kabar mengenai orang-orang yang akhirnya memenuhi panggilan Yang Kuasa. Dia mendadak membenci usia meski bukan cuma itu yang menjadi alasan kepergian manusia. Kadang ia juga menangis, entah untuk siapa. Namun, dari lubuk hatinya yang paling dalam, dia berdoa agar semua orang kembali mendapatkan bahagia, senyum, dan tawanya lagi.