Kairos: [4] Pergi Diam-Diam

Rae membanting pintu selepas memasuki kamarnya. Ia lantas meremas rambutnya kuat-kuat, merutuki kesialan hari ini. Ia juga menendang-nendang, memaksa sepatu yang terpasang di kakinya tanggal.

Tamatlah sudah, dia tidak mungkin bisa berani pergi ke perpustakaan lagi. Dia merasa sungguh payah sebab pertemuan mendadak dengan pria itu membuatnya sepanik ini. Apa yang terjadi nanti seandainya dia mengalami sesuatu yang lebih besar dari ini? Oh, bisa-bisa dia pingsan.

Tanpa terpikir untuk membasuh tubuhnya sejenak dengan pancuran air di atas kepalanya, Rae memaksa diri untuk tidur.

Kesadaran Rae tertelan hingga berjam-jam lamanya. Gadis itu tergolek sendirian di atas salah satu ranjang. Ia sampai sekarang masih menguasai keseluruhan sudut kamar yang belum bertambah pemilik. Hal itu jelas membuatnya lebih leluasa meski terkadang dia merasa kesepian.

Malam menjadi sangat dingin. Rae seharusnya mendapat selapis selimut sebab dia saat ini cuma tidur dengan setelan piyamanya. Udara dingin itu seolah tak mampu menyentak Rae dari titik sadar. Jendela di kamar tersebut belum ditutup, menganga membiarkan suhu dalam ruangan semakin menurun.

Terlalu memusingkan apa yang terjadi di perpustakaan membuat Rae melupakan bahwa seseorang akan datang malam ini. Makhluk kecil itu tengah berdiri di atas meja memandangi tubuh manusia yang menggigil dalam tidurnya di ranjang.

Ian mengubah ukuran badannya menjadi sebesar manusia. Ia lantas memercik air dari telunjuknya, memaksa Rae terbangun.

“Bangun. Aku sudah bilang akan datang, kenapa malah tidur? Kau tidak mau mendengar penjelasanku? Kau tidak mau aku membantu mencari ibumu?” serang Ian. Wanita di hadapannya bahkan belum sadar penuh.

Begitu menyadari kemunculan Ian, Rae mendecak. “Apa-apaan?”

“Kau marah-marah padaku kemarin. Aku kan sudah bilang akan datang malam ini. Kau tidak mendengarku atau bagaimana?”

“Dengar, bodoh. Kau muncul tengah malam begini dan menggangguku. Kenapa harus sekarang?”

“Karena sekarang adalah waktu yang tepat untuk keluar dari sini. Tanpa ketahuan.”

Rae mengernyit. “Kau gila?”

“Apa kau mau menunggu sampai libur musim panas?”

“Tentu saja tidak.”

“Pakai setelan pakaian hitam terbaikmu.”

“Kenapa hitam?”

Ian menarik napas. “Untuk menyamarkan keberadaan kita di kegelapan. Cepat. Aku akan menunggu.”

“Keluarlah.”

“Tidak perlu. Aku di sini. Lagi pula aku tidak tertarik dengan tubuhmu.”

Rae menggeram tidak percaya. Peri satu ini terus saja menguji kesabarannya. Ia tidak mengerti mengapa orang-orang di sekolah menyukai manusia semenyebalkan ini. Namun, gadis itu jelas tak mampu memprotes lagi jika menginginkan Ian membantunya mengusut masalah sang ibu.

“Kalau begitu, menghadaplah ke arah jendela. Jangan mengintip! Meskipun kau tidak tertarik pun, aku tidak bisa menunjukkan badanku pada sembarang orang,” putusnya. Lantas bangkit dari ranjang menuju lemari pakaian untuk mengambil pakaian.

Rae tidak banyak menyimpan sesuatu yang berwarna hitam. Perempuan itu lebih menyukai warna putih susu, krim, cinnamon, dan warna-warna coklat. Setelah susah payah membongkar, dia hanya menemukan satu turtleneck yang bahkan sudah tersembunyi di lemari paling dalam.

Matanya melirik sosok Ian sesaat. Punggung peri itu hampir tak bergerak sama sekali. Setelah meyakinkan diri sekali lagi, Rae bergegas melepas piyama tidurnya. Karena terburu-buru, kakinya sempat tersangkut legging dan membuatnya panik.

Rae menghampiri Ian begitu selesai membungkus kakinya dengan sepasang sneakers. “Apa selanjutnya?”

“Kau keberatan jika kita terbang ke rumahmu?”

“Kau punya sayap?”

Ian menaikkan sebelas alisnya. “Tidak. Aku bisa terbang tanpa sayap.”

“Aku takut ketinggian.”

Ian mengangguk-angguk. “Kita akan meminjam mobil Mr. Price.”

Terkejut, Rae buru-buru menyahut, “Apa maksudmu kita akan meminjam mobil guru asramamu? Kau bercanda?”

“Duduklah di jendela dan jangan lupa tutup matamu.” Ian berpindah ke balik tubuh Rae, menggiring gadis itu mendekati jendela.

Rae panik. “K-kau sedang melakukan percobaan pembunuhan?” Ia bertanya gagap

“Jangan banyak bertanya. Kau semakin kehilangan waktumu malam ini, Rae. Perlu kau tahu, sekarang aku sedang berusaha membantumu,” Ian memperingati.

Begitu kaki Rae sudah menggantung ke luar jendela, Ian menelusupkan kedua lengannya ke pinggang Rae. Degup jantung perempuan itu mendadak bertambah cepat dan napasnya memburu. Rae gugup karena dia belum pernah berada dalam jarak sedekat ini dengan sosok pria kecuali ayahnya sendiri.

“Berhitung dari satu sampai tiga.”

Rae yang sudah memejamkan matanya kuat-kuat karena merasa takut sekaligus tegang kini mengintip kepala Ian di sisi wajahnya. “A-apa?”

“Berhitung, kubilang. Cepat lakukan!”

Peri ini sedang mengajaknya mati. Dia mempermainkan deru napasnya, memacu laju detak jantungnya, juga membuatnya menggantung di tepi jendela. Sungguh tidak waras.

“Satu ….” Rae memegang pinggiran jendela. “Dua ….” Dia mengeratkan pegangannya, berupaya melambat pada hitungan ketiga ketika dia bisa merasakan Ian menusuknya dengan sorot mata tak sabar. “Ti—ga.”

“Ah!”

Tubuh Rae mendadak didorong jatuh.

***

Gelap semakin terasa pekat ketika mobil jeep hitam itu melintas di jalanan yang dikelilingi deret pepohonan. Pemandangan di segala sisi tampak sangat suram. Penerangan dari lampu mobil yang menyorot jalanan rasanya belum cukup. Lampu jalan satu dengan yang lainnya berjarak terlalu jauh.

Rae bingung harus meletakkan fokus pandangnya ke arah mana. Dia tidak suka matanya semakin meneliti celah pepohonan di sana sampai-sampai ia berkhayal ada seekor beruang hitam bersembunyi di balik batang pohon itu.

Rae masih syok, tentu saja. Ian membuatnya jatuh dari lantai tiga. Lelaki itu jelas sedang mencoba membunuhnya. Namun, ajaibnya mereka jatuh dengan lembut di permukaan tanah. Mulai saat ini Rae tidak akan meragukan identitas bahkan kemampuan Ian apapun yang terjadi. Peri itu bisa membuatnya terjun dari lantai tiga tanpa risiko kehilangan nyawa, menyelidiki apa yang terjadi pada ibunya tentu bukan sesuatu yang sulit.

Begitu keduanya sampai di bawah, Ian menyuruh Rae menunggu di halaman parkir, tempat di mana mobil Mr. Price berada. Peri itu pergi ke asrama laki-laki lalu dalam hitungan detik Ian sudah kembali dengan kunci mobil di tangannya.

“Bagaimana pertemuanmu dengan Red? Apakah menyenangkan?”

Rae menoleh terkejut karena Ian tiba-tiba bertanya, memecah sunyi. Dia tentu saja belum melupakan apa yang terjadi padanya sore tadi. Gadis itu mendapati rasa malu menyelimuti akal sehatnya, hatinya terguncang hebat, degup jantungnya menggila bahkan ketika Rae mencoba mengingat secuil memori hari ini.

Namun, sebetulnya, yang membuatnya bingung adalah bagaimana Ian bisa tahu soal ini?

“Hei …, apa kau menguntitku?” tuduh Rae.

Ian tersenyum. “Aku bukan kau yang suka menguntit orang.”

Merasa diejek, Rae memukul lengan kanan pemuda itu kuat-kuat. “Jangan coba-coba mengejekku. Bagaimana kau tahu aku bertemu Red? Bagaimana kau tahu soal aku dan dia?”

“Tentu saja aku tahu. Aku yang merencanakan kejadian di perpustakaan. Aku membuatmu memiliki aroma yang menarik. Red-mu itu tidak akan bisa menghindari baunya.”

Rae melotot. “Apa sih yang sedang kau lakukan?! Selama ini aku tidak pernah ketahuan meskipun berada di radius satu meter dari tempat Red berdiri dan aku tahu kau sengaja membuatku mengalami itu entah bagaimana caranya bahkan ketika aku tidak membuat kesalahan sekalipun!”

Ian mengendik dan mengganti topik pembicaraan begitu saja, “Ibumu bekerja dimana?”

 “Kenapa kau tidak menjawabku?”

“Oh, kau akan membuatnya berkelanjutan, Rae. Sekarang katakan, dimana ibumu bekerja?”

“Dia selalu pergi ke Sein.”

“Sein? Apa yang ibumu lakukan?”

“Entahlah, dia tidak memberitahuku soal itu. Aku juga tidak bertanya.”

“Kalian tidak terlihat dekat,” Ian berkomentar.

“Aku juga baru menyadarinya,” Rae menimpali.

Gadis itu lantas menarik balik kilas waktu yang telah dilaluinya selama ini. Semenjak ayahnya dikabarkan meninggal, ibunya mulai membanting tulang untuk membiayai hidup mereka berdua. Sang ibu pergi bekerja sedari pagi hingga kembali pulang di malam hari.

Segalanya terasa baik-baik saja. Rae akan menghabiskan waktunya sepulang sekolah di rumah Kelly, sahabatnya. Lalu cahaya mentari meredup dan Rae akan mengayuh sepeda pulang ke rumah.

Menyelesaikan tugas sekolah menjadi satu-satunya kegiatan sembari menunggu ibunya kembali. Wanita itu selalu mengusap puncak kepalanya setiap Rae menyambut dengan suka cita. Mereka mengobrol mengenai apa saja yang dilakukan Rae hari ini, tanpa membahas bagaimana hari ibunya berjalan. Ya, Rae baru menyadari bahwa selama ini hanya dirinya yang bercerita.

Rae terus melamun sampai mobil yang Ian kendarai berhenti. Dia sontak tersadar dan mengedarkan pandangan.

“B-bagaimana bisa kau tahu dimana rumahku?!” Ia melempar pertanyaan dengan dramatis.

“Hei, Gadis Bodoh, aku sedang bertanggung jawab atas hidupmu. Tentu saja aku mengetahui semua tentang dirimu.” Ian tersenyum miring.

“Kalau begitu, kenapa kau bertanya soal ibuku? Bukankah seharusnya kau juga sudah mengetahuinya?”

“Aku bertanggung jawab atas hidupmu, bukan hidup ibumu. Kapan kau lahir, dimana kau tinggal, siapa yang kau benci, berapa nilai matematikamu, berapa ukuran pakaian dalammu, aku tahu semua yang ada pada dirimu.”

Rae memelotot marah. “Hei, itu pelecehan!”

“Aku kan hanya menjelaskan. Kau ini mau apa sebenarnya?”

Deretan kalimat yang baru saja ingin Rae balaskan tertahan. Dia sungguhan tidak mau membuat keributan di tengah malam. Pemuda ini tidak tampak seperti seorang peri, justru perilakunya bagai iblis tanpa etika yang selalu menyulut percikan api emosi dalam kepala. Rae harus lebih bersabar.

Ian membuka pagar kayu yang tak dilengkapi gembok. Rumah terlihat sangat gelap. Tidak ada penerangan di sisi manapun seolah aliran listriknya sudah diputus. Rumput-rumput di pelataran tumbuh subur, tidak terawat.

Langkah kakinya menginjak beberapa rumput kering itu hingga membuat mereka terkulai. Rae mulai menyusul di belakangnya. Ian bisa mendengar perempuan itu terkesiap melihat rumahnya sendiri.

“Oh, astaga.”

“Ibumu pasti sudah pergi terlalu lama, Rae,” ujar sang peri yang telah menggapai lantai kayu teras.

“Dia mungkin tinggal di Sein.”

“Dia memberitahumu?”

Rae menggeleng.

“Belum bisa dipastikan, kalau begitu,” simpul Ian. “Kau punya kunci rumahnya?”

“Tidak. Tapi, Ibu selalu menitipkan kunci cadangan pada Paman … Turner.”

Ian menaikkan sebelah alisnya.

“Orang yang tinggal di seberang. Tidak mungkin kita akan mengetuk pintu rumahnya sekarang, ini bahkan sudah dini hari.” Rae menatap langit.

“Apa tidak masalah jika aku merusak pintunya?”

Rae membelalak dan nyaris saja mengoceh sebelum pemudi itu menyadari situasi saat ini. Namun, kalau pintu harus dirusak, mungkin para perampok dapat dengan mudah menginjakkan kaki ke dalam. Sebetulnya, di kawasan rumahnya hampir tidak pernah terjadi tindak kejahatan semacam itu.

“Kau merusak pintunya lalu kita meninggalkan rumah begitu saja?” cerca Rae.

Ian menggeleng, tidak membenarkan dugaan Rae. “Aku bisa mengunci pintunya dengan menumbuhkan sulur dari dalam, Rae.”

“Sulur? Dari dalam? Kalau ibuku tiba-tiba pulang dan tidak bisa membuka pintunya, bagaimana?”

“Entahlah …,” Ian mengendik, “kita pikirkan nanti saja.”

Tanpa menunggu persetujuan Rae, Ian menendang pintu kayu itu kuat-kuat sampai pintunya menghantam dinding keras sekali. Rae hampir menjerit merespons gerakan tiba-tiba itu.

Ketika Ian baru menapak masuk ke rumahnya, Rae mendadak terpikir suatu hal. “Tunggu, kenapa kau tidak berubah jadi kecil dan menyelinap ke rumah Paman Turner saja mengambil kunci?”

Ian menghentikan langkah, memandangi Rae selama sekian detik. Peri itu lantas tersenyum menanggapi pertanyaan yang Rae ajukan. Dia tidak berniat menanggapi, malah semakin masuk meneliti sudut-sudut ruang tamu yang gelap gulita. Meskipun begitu, cahaya biru dari iris matanya menerangi tampilan gelap itu.

Nothrian ‘Ian’ Sea

Barang-barang di atas meja tampak tidak beraturan letaknya. Ian bisa menghirup udara bercampur debu, membuat hidungnya terasa sedikit gatal. Dingin seakan merebut kepemilikan bangunan ini. Ian menangkap keberadaan bercak-bercak aneh di salah satu sofa.

Rae memperhatikan tingkah Ian lamat-lamat. Peri itu terlihat seperti dapat meneliti segala sudut ruang tamu yang sekarang berubah menjadi hitam di matanya. Ia jadi merasa dikerjai.

“Apa yang kau lihat? Jangan coba-coba menjebakku, nyalakan lampunya.” Rae menyusul Ian saat Ian hampir ditelan kegelapan di sana.

Sayangnya, Rae sungguh kehilangan cahaya dari luar sewaktu kakinya memasuki rumahnya sendiri. Tubuh Rae menabrak punggung Ian dan gadis itu buru-buru memegang kedua lengan di depannya.

Leave a comment