Kairos: [2] Ian dan Hal Baru

Semakin diteliti, makhluk mini di sana tampak semakin menakutkan. Rae terus bergerak menjauh hingga tanpa sadar telapak tangannya tak lagi menyentuh kasur. Tubuhnya spontan kehilangan keseimbangan sampai akhirnya ia terjatuh. Pinggang sebelah kanannya membentur lantai cukup keras.

Rae mendesis kesakitan. Ia mengubah posisi badannya menjadi telentang dan mengusap-usap pinggang. Ranjangnya tidak terlalu tinggi, tetapi pinggangnya menyentuh lantai lebih dulu. Tidak heran kalau Rae merasa tulangnya mungkin agak retak.

“Kau baik-baik saja?”

Suara berat yang mencapai rungunya membuat Rae tersadar dengan situasi semula. Matanya membulat sempurna. Rae nyaris berteriak sebelum pemilik kepala yang melongok dari atas ranjang itu menyerobot.

“Jangan berteriak! Kau bisa membangunkan seluruh asrama dan membuat keributan di tengah malam,” peringat lelaki itu.

Iya, lelaki. Entah dari mana munculnya, pemuda yang terlihat seumuran dengannya itu lantas turun dan menawarkan bantuan pada Rae untuk berdiri.

Rae menatap uluran tangan pemuda itu waspada. Ia masih syok dengan kejadian sekian menit yang lalu. Manusia-mini-bisa-bergerak yang muncul tepat di depan mata ketika ia terbangun, lalu seorang pria yang mendadak ada di atas ranjangnya. Rae mencubit perutnya sendiri, merasa kesakitan, ia tidak percaya dia sedang berada di dunia nyata bukannya mimpi.

“Tanganku tidak berbahaya, tahu. Ayo, bangkit dulu, nanti kujawab semua pertanyaan yang ada di kepalamu,” pemuda itu bersuara lagi.

Rae meraih telapak tangan itu, kembali dikejutkan dengan telapak tangan milik si pria yang sangat halus. Dia belum pernah menyentuh permukaan kulit yang sehalus ini. Rae jadi semakin syok.

Rae didudukkan di sisi tempat tidurnya sedang si pemuda mengambil kursi di sudut ruangan. Sengaja menempatkan pantatnya di kursi itu menghadap pada sosok gadis yang menghunusnya dengan sorot mata ketakutan.

“Namaku Ian. Aku peri yang akan mendampingimu selama beberapa waktu ke depan.” Ian memasang senyum paling manis yang langsung menghujam hati malang milik Rae.

Oh, Tuhan, tolong jangan kagetkan dia di waktu seperti ini. Rae benar-benar masih pusing karena baru terbangun dari tidurnya. Rae melongo mendengar ucapan pemuda misterius yang mengaku bernamakan Ian itu. Rae jadi serba pusing.

Sadar dengan respons yang kurang memuaskan, Ian segera menegur, “Katakan apa saja agar aku bisa memastikan kau paham apa yang kubicarakan, Rae.”

Oh, astaga. Rae semakin ingin pingsan ketika pria ini menyebutkan namanya. Dia ini sebenarnya datang dari mana? Rae ingin kembali menikmati waktu tidurnya. Gadis itu masih menahan beban kekhawatiran oleh kabar ibunya yang menghilang, bagaimana bisa dia harus menghadapi beban seperti ini juga?

“A-aku tidak mengerti,” Rae membalas ragu, “kau ini siapa? Kenapa tiba-tiba muncul di kamarku? Apa maumu? Jangan bertingkah macam-macam! Aku bisa melaporkanmu kalau kau berani melakukannya.”

Ian menaikkan sebelah alis. Apakah barusan gadis ini menduganya pria mesum yang mau merenggut mahkota di kepalanya? “Hei, aku bukan pria seperti itu.”

“Lalu kau ini apa?”

“Aku peri.”

Kerutan di kening Rae menebal. “Peri apa?”

“Peri yang akan mengubah hidupmu menjadi lebih layak untuk dinikmati.”

Rae masih tidak mengerti. Karena ia pusing dan malah semakin frustrasi, Rae menjerit, “Kumohon, katakan dengan jelas! Jangan katakan omong kosong! Apa kau tidak tahu? Kau baru saja merecoki waktu tidurku, membuatku terjatuh dari ranjang, dan membuatku pusing dengan semua omonganmu! Tolong jangan perberat beban hidupku orang aneh!”

Ian tidak bergerak. Pria yang mengaku peri itu kemudian mengukir senyum jenaka.

Sadar jeritan Rae sepertinya terdengar sampai ke beberapa kamar dan Ian sendiri khawatir membuat penghuni asrama perempuan menjadi gaduh, apalagi dengan Rae yang tampak masih membutuhkan waktu tidur, Ian memutuskan menjelaskan semuanya besok. Ia meniup tepat ke kedua mata milik Rae sehingga gadis itu pun jatuh tertidur.

***

Jessy berlari meninggalkan asrama terburu-buru. Sebentar lagi kelas pertama akan dimulai dan dia tidak mau terlambat untuk kesekian kalinya. Gadis itu belum mengikat sepatunya dengan benar, ikatan rambutnya agak berantakan, riasan di wajahnya juga sedikit acak-acakan. Jika saja dia tidak mematikan alarm dan tidur lagi, nasibnya tak akan seperti ini.

Ia menghela napas begitu menapakkan kaki di lantai koridor yang ramai oleh murid-murid yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Jessy menjumpai seorang Rae di loker lantas berlari menghampiri sahabatnya itu.

“Oh, astaga!” Rae berjengit ketika seseorang mendadak menepuk pundaknya. Jessy memosisikan diri di samping Rae seraya menunjukkan senyum jahil. “Kau suka sekali, ya, mengejutkanku?”

“Ayolah, Rae, aku hanya menyapa,” elak Jessy. “Kau mimpi indah selama tidurmu?”

Tangan kanan Rae yang tengah membereskan isi lokernya berhenti sejenak. “Aku mimpi aneh semalam. Akan kuceritakan saat jam makan siang tiba.”

Rae pergi ke kelasnya setelah menutup pintu loker.

Jessy mendecak. Ia ingin sekali mencuri semangat pagi yang ada dalam diri Rae. Rae tampak sama sekali tidak terbebani dengan semua rangkaian aktivitasnya di Trevix. Seandainya dirinya dan Rae berada di kelas yang sama, dia tidak akan memaksa kepalanya untuk berkonsentrasi pada pelajaran dan mengandalkan gadis itu saja. Rae terkadang cukup bagus di mata pelajaran tertentu

Setelah mengambil beberapa buku dari loker, Jessy menutup pintunya lalu bersiap pergi. Namun, baru saja dia melangkah sekali, sosok jangkung yang baru saja melintas berhasil menarik perhatiannya dan sejumlah murid lain.

Dari segi bentuk tubuh, Jessy belum pernah melihat pemuda dengan postur seperti itu di sekolahnya.

Anak baru?

Jessy terpaksa menyimpan pertanyaannya lebih dulu ketika bel jam pelajaran pertama memancing kepanikannya. Dia lupa kalau ia akan bertemu aljabar di jam pertama. Sambil berlari, ia mengumpat meratapi kecerobohannya sendiri.

Sementara itu, Rae yang baru saja sampai di kelas memutuskan mengambil bangku paling depan. Kebetulan dia datang lebih dulu. Rae menyiapkan buku catatan biologi dan menyiapkan dirinya jika Mrs. Nicky mengadakan kuis dadakan seperti biasanya.

Bel dimulainya jam pertama mengisi rungunya, murid-murid yang tadi sedang mengobrol di koridor buru-buru masuk ke kelas masing-masing. Rae bersandar sambil mengetuk-ngetukan ujung pulpennya ke meja. Ia tidak banyak mengenal orang-orang di sekitarnya saat ini. Hanya beberapa murid yang tergabung dalam klub teater saja yang familier.

Namun, orang terakhir yang melalui pintu kelas ini sukses membuat matanya membulat.

Apa-apaan? Kenapa orang di mimpiku semalam jadi betulan ada di sini?

Ian menyempatkan diri memandang gadis yang menyambutnya dengan sorot terkejut. Ia jadi tertarik mengerjai Rae sebelum dia menariknya ke topik yang lebih jauh. Setidaknya Rae perlu pemanasan sedikit sebelum ia menyapa gadis itu lagi.

Rae tanpa sengaja menjatuhkan pulpen dalam genggamannya. Benda kecil itu sialnya menggelinding mendekati kaki bangku Ian. Rae menggigit bibirnya sambil menatap malang ke pulpen hitamnya yang tergolek.

Sebab si pemilik tak berniat mengambil, Ian yang mengetahui keberadaan pulpen Rae segera mengambilnya. Ia berusaha menahan senyum karena ekspresi Rae benar-benar terlihat lucu ketika Ian sempat melirik.

“Ambil ini,” Ian berkata sembari menyodorkan benda itu pada Rae. Raut terkejut sekali lagi tercipta setelah apa yang terjadi kemarin malam. Namun, Rae tidak segera menerima pulpennya dan malah terpaku sehingga Ian meletakkan alat tulis itu ke atas bangkunya. “Ayo, kita lanjutkan obrolan kemarin malam saat jam makan siang.”

Tepat sesaat setelahnya, Mrs. Nicky memasuki ruangan hingga membuat suasana gaduh di kelas menjadi hening. Ian tersenyum puas melihat reaksi Rae sedangkan gadis itu sulit memfokuskan diri pada Mrs. Nicky yang mulai bicara di depan kelas.

***

Jam makan siang digunakan mayoritas siswa Trevix menikmati hidangan kafetaria. Sebagian kecil lainnya menyembunyikan diri di perpustakaan, menggosip di halaman sekolah, atau melewatkan waktu istirahat dengan tertidur di kelas.

Semua warga Trevix seolah tak mempermasalahkan kemunculan Ian di lingkungan mereka. Padahal setiap kali ada siswa baru yang datang, mayoritas gadis-gadis akan membicarakannya. Apalagi siswa barunya adalah seorang lelaki. Rae yakin dengan bermodalkan wajah, Ian bisa menggaet seluruh siswi Trevix.

“Tadi kau bilang mau menceritakannya padaku,” Jessy memprotes Rae setelah gadis itu tidak mau pergi ke kafetaria bersamanya tiba-tiba. Rae mencegat tepat di depan kelasnya sampai membuat Jessy terkaget hingga tubuhnya terhuyung dan hampir menabrak siswa lain.

“Kita bicara lain kali saat makan siang. Oke?”

Jessy mendengus. “Baiklah. Tapi, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kenapa tidak mau ke kafetaria?”

“Aku sedang menghindari seseorang.” Selepas mengatakan itu, Rae buru-buru pergi.

Jessy terbelalak. “Menghindari siapa? Hei! Jangan pergi dulu, beri tahu aku!”

Rae menghabiskan waktu makan siangnya di teater. Dia tidak memiliki selera untuk memakan sesuatu. Ia benar-benar harus menjauhi orang mengerikan seperti Ian—itu nama yang ia tahu dalam mimpinya—yang bertingkah seolah pemuda itu sudah lama mengenalnya. Rae bukan orang populer di sini dan ini mencurigakan bagaimana lelaki itu bisa mengenalnya secara mendadak.

Ia juga memikirkan bagaimana cara dia mencari ibunya yang diduga menghilang. Sayangnya dia juga tidak bisa mengambil libur mendadak. Rae tidak bisa berhenti mengkhawatirkan ibunya.

“Kau tidak ke makan siang? Menu hari ini adalah makanan favoritmu.”

Rae sontak terperanjat ketika suara berat itu menghantam telinga kanannya. Dia hampir saja terjatuh jika sosok di belakangnya itu tidak memegangi kursi yang ia duduki.

“Jangan terkejut begitu, Rae. Kita kan sudah berkenalan kemarin.” Ian tersenyum ramah, tetapi Rae melihatnya seperti senyum yang disunggingkan hantu toilet sekolah yang kerap membayangi isi kepalanya.

“Kau bingung sekali, ya? Aku jadi siswa di sini juga agar bisa lebih leluasa membantumu, tahu. Aku bukan hantu yang bisa membuat tubuhnya tidak terlihat di mata orang lain. Jadi, ayo, kita berteman, Rae.”

Rae ragu-ragu menanggapi, “K-kau—benar-benar aneh.”

Ian menghela napas kesal.

Sulit sekali mendapatkan kepercayaan dari gadis ini. Bukankah semestinya dia segera memintaku melakukan sesuatu yang menguntungkan bukan menginterogasi seperti pencuri? Manusia ini memang sesuatu. Setidaknya katakan bahwa dia menerima pertolongan yang kutawarkan, memujiku tampan, atau menanyakan kebenaran soal peri seperti manusia-manusia lain yang aku temui sebelumnya.

“Rae, aku Ian, seorang peri dan aku akan membantumu. Hanya itu saja sampai pada waktunya aku akan menyelesaikan tanggung jawabku,” tegas Ian. Berharap itu cukup untuk meyakinkan Rae.

“Bagaimana bisa kau membantuku?”

Ian mengangguk paham mengenai topik itu. “Yah …, aku bisa melakukan hal-hal yang manusia tidak bisa lakukan. Aku bukan penyihir atau pesulap, hanya seorang peri.” Netranya menelusuri sudut-sudut gedung teater, memperhatikan setiap detailnya, seolah sedang menilai. “Aku harus bergabung dengan klub teater. Antarkan aku pada pengurusnya, aku akan seleksi langsung.”

“Untuk apa?”

“Cuma ingin menikmati peranku sebagai siswa sekolah. Aku juga harus ikut ekstrakurikuler, mereka mungkin tertarik padaku, kan? Atau kau saja yang menyeleksiku sekarang? Oh, aku lupa. Kau kan sering bolos di pertemuan mingguan.” Ian tersenyum miring

Kedua alis Rae hampir bertaut. Ia sudah terlalu lelah untuk meladeni sisa kecurigaan di hatinya apalagi merasa marah dengan ucapan sarkastik Ian. Hari ini kebetulan memang klub teater mengadakan kumpul rutin mingguan untuk seluruh anggota. Mereka akan menegur orang yang tidak aktif bermain peran dan memaksa orang itu untuk aktif jika tidak ingin dikeluarkan. Rae sepertinya akan menghadapi itu mengingat dia sering melewatkan kegiatan klubnya sendiri.

Sementara itu, bergabungnya Ian di klub teater dan renang membuat namanya mulai dibicarakan oleh kelompok gadis-gadis penggosip di sekolah. Apalagi ketika mereka baru menyadari bahwa pemuda itu memiliki tampang yang cukup menawan.

Sejumlah klub juga mengajak Ian untuk bergabung tetapi peri itu tidak ingin terlalu sibuk menjadi murid sekolah ketimbang menjalankan tugasnya. Pasti akan merepotkan kalau dia melakukannya sekaligus.

***

“Ian itu orang aneh yang ada dalam mimpimu?”

Rae mengangguk. Kembali mengingat detail mimpinya kemarin malam. “Dia juga mengatakan hal yang sama. ‘Aku Ian, peri yang akan membantumu’. Astaga, kau mengerti apa maksudnya? Dia benar-benar aneh.”

Jessy menggaruk tengkuk selagi berusaha memahami. “Bisa saja dia sungguhan peri, Rae. Mungkin dia punya sayap dan bisa terbang atau dia punya sihir dan telinganya runcing. Oh, telinganya tidak runcing, kan? Apa dia menyamar? Ini menarik sekali.”

“Kau gila. Peri itu tidak ada.”

“Yah …, kau dan aku berbeda. Coba minta dia kabulkan tiga permintaanmu.”

Rae mengembuskan napas sebal. “Dia bukan jin botol.”

“Memangnya kau tahu apa soal dia? Kalau kau tidak tahu dia betulan peri atau tidak, kenapa kau bilang dia bukan jin botol?”

“Keduanya terdengar seperti omong kosong, Jess. Hanya orang-orang bodoh yang percaya hal-hal seperti itu.”

“Tapi, kau percaya hantu,” balas Jessy.

Rae melempar tisu kotor ke Jessy.

“Apa yang mau kau lakukan padanya?” Jessy melempar pertanyaan. “Kalau ternyata dia bukan peri, aku akan mendekati dia. Cowok-cowok dari klub renang itu selalu terlihat keren.”

Rae mengendikkan bahu. “Entahlah. Selama dia tidak melakukan sesuatu padaku, aku juga tidak melakukan sesuatu padanya. Sesederhana itu saja. Aku tidak suka sesuatu yang rumit.”

“Dia mengenalmu. Apa kau yakin tidak memiliki teman pria sebelum tinggal di sini?”

Dengan pasti, Rae menggeleng. “Mungkin aku kenal beberapa di sekolah lamaku tapi aku yakin tidak ada yang namanya Ian.”

Jessy mengangguk mengerti. Keduanya lantas terdiam dan sibuk menyantap makanannya. Jessy tadi mengambil kentang goreng ukuran besar dan segelas soda sedangkan Rae mengambil satu set hidangan biasa. Rae menghabiskan makanannya dengan cepat sedangkan Jessy menikmati makan sembari mengedarkan pandangannya.

Manik coklat mata Rae mengedar ke seluruh sudut kafetaria. Sekadar melepas rasa bosan karena Jessy tak memiliki sesuatu yang bagus lagi untuk diobrolkan. Ia cuma melihat keramaian dan kepadatan. Apalagi suara tawa yang berasal dari meja tengah, menyerap atensi pengunjung kafetaria yang lain. Anggota klub basket dan pemandu sorak mayoritas ada di sana. Meja tengah adalah sarang siswa-siswa terkenal di Trevix.

Rae nyaris memindahkan objek tatapnya saat mendapati wajah tak asing bersembunyi di antara kerumunan meja tengah. Sosok jangkung dengan safir biru di matanya, sedang tertawa terpingkal-pingkal.

“Jess, kau harus melihat ini,” gumam Rae, membuat Jessy mengangkat kepala dan mengikuti arah tatapannya. “Apa aku salah lihat? Aku baru saja menemukan Ian di sana.”

Leave a comment