
Menjelang waktu pulang, Rae melewatkan kegiatan ekstrakurikulernya sendiri. Padahal dia sudah lama tak memainkan peran bersama anak-anak seni teater lainnya. Demi mengintip seorang anak manusia yang bersembunyi di balik rak-rak buku perpustakaan, ia melakukan itu.
Sudah sekitar enam bulan—setidaknya—semenjak Rae mengenal lelaki jangkung itu. Matanya kerap mencuri pandang tiap kali sosoknya berlalu di sekitarnya. Siswa lain mungkin tak terlalu menaruh atensi padanya tetapi Rae jelas-jelas sudah terperangkap sejak berpapasan dengan pria itu di gudang penyimpanan.
Rae cukup mahir berpura-pura. Jemarinya meluncur di permukaan buku-buku itu seolah mencari bacaan yang sesuai untuknya. Ia sengaja melepas ikatan rambut agar orang lain tidak mencurigai dan menyadari aksinya. Helai rambutnya menggantung di sisi kanan dan kiri wajah. Lirikannya cukup tajam untuk memperoleh penampakan objeknya di sela buku-buku yang tertata rapi.
Sayangnya, lantaran terlalu memfokuskan perhatian pada sang pujaan hati, Rae tak waspada dengan keadaan sekitar. Seorang murid tingkat satu yang membawa tumpukan buku tanpa sengaja menabraknya. Sontak hal itu menimbulkan suara ribut hingga beberapa pengunjung perpustakaan kebingungan.
“Oh!” Gadis yang terduduk sekian sentimeter dari Rae itu tampak panik. Bibirnya bergerak ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-katanya seperti tersangkut di tenggorokan.
Rae sama terkejutnya. Ia bukan seseorang yang lambat memberikan respons, namun konsentrasinya pada seorang pemuda di sana cukup melemahkan kesadarannya.
“Oh, maafkan aku.” Gadis itu buru-buru bangkit dan mengulurkan tangannya membantu Rae. Saat itulah Rae mulai menyadari apa yang terjadi.
“Tidak, tidak apa-apa. Biar kubantu merapikan buku-bukumu.” Rae mengambil satu per satu buku yang berserakan di lantai.
Lekas mengikuti apa yang dilakukan Rae, pemudi itu memasang ekspresi dan berlaku canggung. Dia tentu merasa bersalah karena nekat membawa tumpukan buku itu sekaligus. Akibatnya dia jadi mengganggu pengunjung perpustakaan lainnya. Ia jadi merasa benar-benar ceroboh.
Derap langkah menghampiri selagi mereka membereskan kekacauan yang terjadi. Selepas anak tingkat satu itu pergi sambil berkali-kali mengucapkan maaf, penjaga perpustakaan tiba dan menanyakan peristiwanya.
“Ada kecelakaan kecil, seorang siswa kelas satu menabrakku. Sepertinya dia tidak melihat keberadaanku karena pandangannya terhalang buku-buku,” terang Rae lantas tersenyum simpul.
Mendengar penjelasan Rae, penjaga perpustakaan wanita itu menggerutu dan memohon maaf. Rae tidak merasa keberatan, matanya sejenak melirik tempat dimana objek favoritnya terakhir berada. Menyadari bahwa objek itu sudah menghilang, Rae berpamitan pada penjaga perpustakaan yang masih berdiri di depannya.
Waktu kegiatan ekstrakurikuler akan berakhir kurang dari lima menit lagi. Rae melangkah sembari memperhatikan siswi-siswi yang tergabung dalam klub pemandu sorak sekolah berlatih. Ia cukup iri menonton beberapa dari mereka melakukan gerakan senam dengan begitu mudahnya. Tubuh mereka sangat lentur. Ia pernah mencoba mempraktikan salah satu gerakannya di kamar asrama tetapi itu malah membuat pinggangnya sakit.
Rae mengembuskan napas kasar. Apalah dia ini, cuma gadis biasa yang bersembunyi di balik statusnya sebagai anggota klub teater. Tidak ada yang bisa dibanggakan. Terkadang itu membuatnya merasa kecil di antara murid-murid berprestasi di sekolahnya. Rae itu tidak bodoh, tidak juga pintar. Dia benar-benar seorang gadis standar.
Rae tidak pernah mau menyatakan ketertarikannya pada pemuda itu. Mungkin hanya perkara berbicara, namun dia berpikir bahwa apa yang dilakukannya itu akan memalukan. Dia tidak pandai bersikap untuk menarik atensi siswa lelaki di sekolah ini. Dia hanya tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri.
Ia tidak tahu sampai kapan kisah cintanya akan berjalan mengenaskan begini tetapi setidaknya dia perlu membuat hidupnya lancar sampai sekolah ini mengeluarkannya. Sekali ini saja, dia mau meringankan beban ibunya yang terlalu banyak hidup dalam tekanan.
Sekaleng soda bersarang di tas selempangnya di perjalanan menuju kasur empuk yang menunggu ditiduri. Langit sudah berubah menjadi oranye sedang tubuhnya terus mengeluarkan bau masam keringat. Tubuh itu seolah mengode sang pemilik untuk segera berdiri di atas pancuran dengan air yang membasahi.
Besok hari yang pas untuk olahraga ringan, Setidaknya Rae berusaha menjaga bentuk badannya agar dia tak tampak menyedihkan di mata siswa lelaki di sekolah.
Rae menerima kiriman surat. Biasanya ibunya yang mengirim tetapi ini sama sekali bukan ibunya. Yang tertulis di sana adalah Turner Force, pria paruh baya yang bertempat tinggal tepat berseberangan dengan rumahnya. Rae penasaran perihal apa Turner mengiriminya surat seperti ini.
Ia mandi secepat kilat dan segera membuka amplop surat sambil terduduk di kursi belajarnya.
Halo, Rae.
Apa kabar? Semoga kau belajar dengan baik di sana.
Kau pasti keheranan karena aku tiba-tiba mengirimimu surat dan bukannya ibumu. Maafkan aku harus mengatakannya, ibumu menghilang seminggu ini. Biasanya dia selalu menitipkan kunci rumah padaku tapi tidak kali ini.
Apakah ia sempat berkunjung ke sana? Jika dia sungguh berkunjung segera balas surat ini sehingga aku tidak perlu merasa khawatir.
Salam hangat dariku,
Turner Force.
Rae membeku. Keningnya mengerut bingung dan linglung. Ia kembali membaca tulisan pria itu sembari berdoa ia melupakan beberapa kata di sana. Sayangnya, tulisan Turner tetap menyatakan hal yang sama.
Ibunya menghilang? Setahunya wanita berumur 42 tahun itu cuma sekali-kali pergi ke pusat kota untuk bekerja. Namun, Rae sendiri tidak tahu pekerjaan apa yang dilakoni ibunya saat ini. Lalu mengapa perempuan itu tak melakukan hal biasanya jika dia pergi lagi untuk bekerja?
Rae mengerang. Dia tidak akan bisa keluar dari sekolah ini sebelum bertemu libur musim panas tahun depan. Itu masih sangat lama sekali. Rae mengacak-acak rambutnya sebal. Seandainya saja dia tahu ibunya bekerja apa dan di mana, dia tidak perlu pusing dan langsung menghubungi tempat kerjanya saja untuk bertanya.
Bagaimana bisa dia mencari tahu kalau dia terkurung di sini?
***
Malam yang larut melahap seluruh kesadaran tubuh-tubuh manusia yang tergolek di atas kasur. Sebagian kecil mempertahankan mata mereka tetap terbuka oleh suatu alasan. Sebagian kecil lagi memaksakan diri terjaga di malam hari oleh suatu urusan yang harus segera terselesaikan.
Meski ia baru menerima kabar buruk mengenai ibunya sore tadi, Rae tidak mau menyiksa diri dengan membiarkan matanya terbuka sepanjang malam. Ranjang dan kasur empuknya terlalu menggoda untuk diabaikan. Suhu udara malam ini juga tidak terlewat panas ataupun dingin. Ia terlelap berbungkus selimut biru yang dibawanya sendiri dari rumah.
Memang hanya ada Rae di kamar itu. Dia belum mendapatkan teman sekamarnya semenjak Emma memutuskan keluar dari Trevix tiga bulan lalu. Terkadang Rae merasa kesepian, tetapi dia juga merasa senang. Dia tak perlu berbagi lemari pakaian atau merasa terganggu jika teman sekamarnya melakukan sesuatu yang tidak ia sukai.

Nyatanya, tanpa disadari siapapun, sesosok makhluk kecil yang memperhatikan raut tenang manusia di atas ranjangnya itu menjadi penghuni lain kamar. Tubuhnya berdiri di bawah lampu tidur yang mati di nakas.
Ragu-ragu, dia perlahan turun dari sana dan mendarat di atas kasur milik tubuh raksasa di hadapannya. Tangan kecilnya menyentuh pipi gadis yang tengah menikmati euforia dalam bunga tidur. Ia terus menyentuh dan menoel pipi bulat gadis itu hingga kesadarannya si manusia kembali.
Rae mengerjap. Apa yang sejak tadi menyentuh pipinya? Dia jadi harus melupakan mimpi indahnya ketika berusaha membuka mata.
Benda mini yang tiba-tiba berada di sisi bantalnya membuat Rae terkejut bukan main hingga membuat gadis itu spontan merapat pada sisi lain ranjang. Dia menatap horor replika manusia mini yang terjerembab.
Rae semakin ketakutan ketika menyadari benda mini itu bisa bergerak.